Israel Menjadikan 70% wilayah Gaza Sebagai Zona Larangan, Penghuni Tidak Dapat Kembali
PIKIRAN RAKYAT – Israel Penduduk sudah mengklaim kira-kira 70% dari area Gaza menjadi daerah terlarang untuk penduduk Palestina.
Ini dicapai melalui pemberian perintah pengosongan area secara paksa serta membatasi akses, sesuai dengan laporan dari Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA).
Di daerah selatan Gaza, mayoritas area di Provinsi Rafah sudah ditetapkan sebagai kawasan terlarang mulai akhir bulan Maret.
Pada saat yang sama di sektor utara, hampir semua kota Gaza menerima instruksi untuk mengungsi, meninggalkan wilayah kecil di bagian barat laut sebagai satu-satunya daerah yang tidak terdampak.
Daerah timur lingkungan Shujayea dan wilayah sepanjang perbatasan Israel pun masuk dalam zona terbatas.
Rencanan Baru Israel untuk Mengambil Alih Gaza
Perdana Menteri Israel Penjajah Benjamin Netanyahu mengumumkan pada hari Senin, tanggal 5 Mei 2025, bahwa lebih dari dua juta orang di Gaza akan dikirim keluar dengan cara paksa sebagai bagian dari operasi militer baru-baru ini. Operasi ini melibatkan invasi tanah yang berarti penyebaran pasukan Israel ke area-area tertentu serta kediaman tetap mereka di daerah-daerah tersebut untuk waktu yang tidak ditentukan.
Tindakan ini dilakukan setelah kabinet Netanyahu sepakat tanpa cela untuk memanggil 60.000 tentara cadangan.
Di samping itu, mereka melepaskan kontrol penyaluran bantuan makanan dan keperluan penting lainnya kepada tentara Israel, padahal warga di Gaza telah menghadapi ancaman kelaparan.
Prioritas Israel Adalah Pengendalian Wilayah
Melansir laporan dari Deir el-Balah, bagian tengah Gaza, korresponden Al Jazeera, Tareq Abu Azzoum, menyatakan bahwa masyarakat Palestina memandang operasi militer darat Israel dan usaha mereka untuk mereklaim wilayah Gaza sebagai tindakan hukuman massal serta upaya merombak konfigurasi etnis dan politik di daerah tersebut.
Banyak penduduk Palestina berpendapat bahwa Israel lebih mengutamakan penguasaan teritori daripada menemukan jalan keluar yang damai secara politis. Mereka juga cemas tidak dapat pulang lagi ke tempat tinggal semula.
Penduduk Palestina yakin bahwa sasaran Israel bukan sekadar untuk menurunkan kemampuan militernya melawan Hamas sebagaimana dijelaskan oleh perwakilan militer dan Netanyahu, namun juga berupaya membebaskan Gaza dari penghuniannya serta mengerem ruang hidup warganya menjadi lebih sempit.
Taktik yang dianut oleh Israel mencakup penggabungan antara pendekatan humanis dengan taktik militer, di mana hal ini melibatkan penguatan serangan darat serta pembatasan aliran bantuan kemanusiaan.
Walaupun demikian, dalam menghadapi tekanan tersebut, banyak penduduk Gaza masih memperlihatkan sikap resisten. Melalui platform-media sosial, bermacam-maca ucapan tekad serta komitmen untuk tidak meninggalkan Gaza, terlepas dari apa pun risiko yang ada, menjadi semakin nampak.
ancaman kelaparan di gaza semakin terasakan
Palang Merah Palestina (PRCS) mengingatkan bahwa Gaza saat ini terancam dengan "kelaparan parah", sebab tak ada lagi persediaan pangan tersisa baik di pasaran maupun di gudang penyaluran bantuan.
Pada saat yang sama, organisasi HAM Israel bernama B'Tselem mengkritik pemerintah Israel karena dianggap memanfaatkan kelaparan sebagai alat dalam perang. Menurut mereka, setengah dari jumlah korban akibat kelaparan tersebut terdiri atas anak-anak.
"Dalam aspek nutrisi, warga Gaza sekali lagi berhadapan dengan ancaman kelaparan yang amat parah," demikian tertulis di laporan terbaru PRCS.
Belum ada Komentar untuk "Israel Menjadikan 70% wilayah Gaza Sebagai Zona Larangan, Penghuni Tidak Dapat Kembali"
Posting Komentar