Tahapan Konklaf Pemilihan Paus Hingga Diumumkan ke Publik
romero.my.id -, Vatikan sedang mempersiapkan diri untuk mengadakan konklav penunjukan Paus baru.
Setelah Paus Fransiskus meninggal dunia, Gereja Katolik Roma mengadakan berbagai tahap persiapan, termasuk periode berkabung dan kemudian menuju ke konklav untuk memilih Paus baru yang dijadwalkan terjadi pada hari ini, Rabu (7/5/2025).
Paling tidak, terdapat 120 kardinal elektor berasal dari beragam negara yang akan turut serta dalam konklav untuk memilih Paus baru.
Peserta dalam konklaf untuk memilih Paus harus berumur kurang dari 80 tahun.
Selanjutnya, bagaimana proses konklaf untuk memilih Paus ini berlangsung?
Serangkaan atau langkah-langkah dalam konklave untuk memilih Paus
Berdasarkan informasi dari sejumlah referensi, terdapat beberapa langkah dalam konklav untuk memilih Paus yang akan dihadiri oleh para kardinal dari seluruh penjuru dunia.
Mereka akan berkumpul Kapel Sistine, sebagai langkah awal dalam pemilihan Paus yang baru.
Berikut ini merupakan ringkasan pendek tentang prosesi konklav dalam memilih Paus.
1. Penyelenggaraan dan Ketibaan Kardinal
Setelah Kepala Suci meninggal dunia atau mengambil keputusan untuk resign, periode sede vacante dimulai dan kardinal pemilih (berusia di bawah 80 tahun) dari seluruh dunia dipanggil ke Roma .
Mendekati konklav, para kardinal yang dipilih berpindah ke Wisma Santa Marta di dalam wilayah Vatikan.
Mereka akan bertahan selama konklav berjalan dan berjanji untuk tidak berinteraksi dengan lingkup eksternal, menangkap momen tersebut, ataupun membocorkan rahasia mereka demi mencegah pengecualian.
Namun sebelum itu, ada masa berkabung resmi selama sembilan hari ( novemdiales ) dijalankan sebelum konklaf dimulai .
2. Upacara Ibadah dan Perayaan Berjalan ke Kapel Sistine
Di hari pertama konklaf, para kardinal merayakan misa istimewa di dalam Basilika Santo Petrus.
Pada sore hari itu, mereka berjalan dari Kapel Paulus menuju Kapel Sistina sambil menyanyikan "Veni Creator Spiritus" sebagai doa agar diberi petunjuk oleh Roh Kudus. .
3. Janji Kerahasiaan dan Penyegelan
Di Kapel Sistina, setiap kardinal bersumpah untuk menjaga rahasia.
Mereka berjanji bahwa bila dipilih, mereka akan melaksanakan kewajiban mereka secara tekun dan bersumpah sekali lagi untuk memelihara rahasia tersebut.
Setelah perintah "Extra omnes", semua yang bukan kardinal pemilih meninggalkan ruangan dan pintunya pun terkunci.
Kardinal diisolasi penuh dari dunia luar, tanpa akses telepon, internet, atau surat kabar .
4. Pemungutan Suara
Penyelenggara acara mendistribusikan ballot kepada para kardinal yang telah dipilih, diikuti dengan pengundian untuk menentukan siapa yang akan memulai proses pemilihan tersebut.
- Tiga kardinal dipilih sebagai Scrutineers (pengawas pemungutan suara).
- Tiga sebagai Infirmarii (mengumpulkan suara dari kardinal yang sakit).
- Tiga bertindak sebagai Pemeriksas (mengecek hasil penghitungan suara).
Voting akan dilaksanakan dalam dua kali sesi setiap harinya yakni di waktu pagi dan sore.
Kepada para kardinal diserahkan sebuah surat pemilihan dengan bentuk segi empat yang bertuliskan kalimat "Eligo in Summum Pontificem" ("Saya memilih paus tertinggi") di bagian atas, lalu tersisa area kosong di bawah tulisan tersebut.
Pemilih harus mencatatkan nama pilihan mereka bagi bakal paus secara manual tanpa bisa diketahui aslinya dari mana tulisan tersebut berasal, lalu lipat dua lembar surat suara tersebut.
Setiap kardinal berturut-turut melangkah menuju altar, mempersembahkan suaranya kepada angkasa hingga terlihat secara jelas, kemudian menyuarakan janji berikut dengan keras:
- Saya memberi kesaksian atas nama Tuhan Yesus, Yang Akan Menjadi Hakim Saya, Bahwa Suara Saya Diberikan Kepada Orang Yang Saya Rasa Harus Dipilih Berdasarkan Pandangan Saya Di Hadapan Tuhan.
Pemilih menaruh kertas suara yang sudah dilipat mereka di atas nampan, alat tersebut dipakai untuk memindahkan surat suara kedalam guci perak yang berada di altar dan dikerjakan di depan saksi-saksi.
Kemudian mereka merundukkan badan dan kembali ke posisi duduk masing-masing.
Pada saat yang sama, bagi para kardinal yang tidak bisa berjalan menuju altar, mereka memberikan suaranya kepada seorang pengawas yang kemudian akan meletakkannya di dalam guci untuk mereka.
5. Penghitungan suara
Setelah seluruh suara masuk, petugas pemilihan mengocok guci tersebut guna meratakan suaranya, lalu memindahkan semuanya ke sebuah wadah lain agar bisa mengecek jika total suara sesuai dengan jumlah pemilih yang sebenarnya, kemudian mereka pun mulai melakukan perhitungan.
Dua pengawas menulis nama-nama itu sementara yang ketiga mengucapkannya dengan lantang, menyematkan jarum surat suara pada kata "Eligo" dan mempersatukan semuanya.
Panitia selanjutnya meninjau kembali untuk memastikan bahwa para pengawas tidak membuat kesalahan apapun.
Apabila tak ada yang mendapatkan dua pertiga suara, maka tidak akan ada juara dan seluruh pemilih pun kembali untuk tahap kedua.
6. Sinyal asap: Gelap atau Putih
Surat suara serta catatan manual yang ditulis oleh para kardinal setelahnya akan dimusnahkan dengan cara dibakar dalam tungku yang berada di kapel. Kapel ini akan memproduksi asap hitam apabila belum ada pilihan paus baru, sementara itu jika Gereja Katolik telah mendapatkan pemimpin barunya maka warna asap yang keluar menjadi putih.
Asap itu akan berubah warna menjadi hitam atau putih dengan menambahkan zat kimia tertentu.
Apabila proses voting berlangsung selama tiga hari tanpa menentukan pemenang, maka akan diselenggarakan satu hari untuk doa, refleksi, serta dialog.
Apabila setelah tujuh kali voting belum ada yang menang, maka akan ada satu hari istirahat tambahan.
Apabila para kardinal belum juga menemukan kesepakatan setelah empat kali pemungutan suara, mereka bisa bersepakat untuk fokus hanya pada dua calon terpopuler, di mana pemenang harus mendapatkan mayoritas suara yang jelas.
7. Pengumuman
Setelah seorang calon dipilih dan menerima hasilnya, dia langsung beralih ke "Ruangan Tangis" untuk memakai pakaian Paus.
Selanjutnya, dia kembali ke Kapel Sistina untuk berdoa dan dihormati oleh para kardinal.
Pada saat yang sama, Kardinal Protodiakon muncul di balkon Basilika Santo Petrus dan menyuarakan secara keras dalam bahasa Latin:
- "Annuntio vobis gaudium magnum: Habemus Papam!" (Artinya: "Saya mengumumkan kepada Anda kegembiraan besar: Kita memiliki Paus!")
Tak lama kemudian, Paus baru muncul di hadapan umat, memberikan berkat apostolik pertamanya, "Urbi et Orbi", kepada kota dan seluruh dunia. (romero.my.id)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook , Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
Belum ada Komentar untuk "Tahapan Konklaf Pemilihan Paus Hingga Diumumkan ke Publik"
Posting Komentar